Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomePKS DELAPAN (Please Keep Spirit DEngan LuAPan imAN)Aug 13, 2007
Tahun 1998 - 2003 ada seberkas CAHAYA (An NUUR) muncul dan mulai menerangi Bumi Nusantara...
Tahun 2003 - 2008 walau ada yang ingin memadamkan, CAHAYA itu menjelma menjadi tentara LEBAH (An NAHL) yang bekerja keras untuk memajukan Nusantara...
Tahun 2008 - ... Tentara lebah menjelma menjadi Al ANFAL... waspadalah jangan sampai lengah...

Aku sempat berfikir, waktu itu 2004...
Dari nomor 24 berubah menjadi 16... bisa jadi nanti 8... Ternyata benar... Semoga tidak menjadi RAMPASAN PERANG yang diperebutkan. .. tapi hanya menjadi HAK ALLAH SWT dan Rasul-NYA.
.
Photo AlbumGaleriMay 14, 2008
ddd
dThumbnaild
ddd
Dimana Bumi???
5 Photos, 4 comments
ddd
dThumbnaild
ddd
Launching Training Terpadu Kader (TEKAD)
8 Photos, 3 comments
ddd
dThumbnaild
ddd
Pelayanan Kesehatan Korban Kebakaran Kel. Maccini Parang
9 Photos
ddd
dThumbnaild
ddd
sang pandu
5 Photos, 5 comments

   View All
.
ReviewBeritaFeb 18, 2009
INILAH.COM, Jakarta - Nama Syarif Maulana Komarudin tengah terkenal di kalangan DPW PKS DIY. Spanduk pencalegannya dengan bendera PKS tersebar di negeri Sultan Hamengku Buwono X tersebut. Siapa sangka dia hanyalah caleg gadungan.


Caleg PKS... more
Previous reviews:
Dec 21-Caleg Perempuan PKS Dibekali
Dec 2-"Selamat Tinggal PKS"...
Nov 26-Seruan Memuliakan Guru
Partai Keadilan Sejahtera's favorite reviews:
Sep 6-Partai Da’wah Tidak Pernah Kalah
Aug 15-Sikap Ksatria PKS & Adang-Dani
Aug 15-Partai-partai Harus Bercermin Pada PKS
   View All
.
Blog EntryTaujihDec 23, 2008
Oleh Afif Romadlon Bermula dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan beberapa kader, aktivis dakwah dan bahkan tokoh PKS kepada penulis tentang berbagai persoalan dakwah dan ukhuwwah yang kian meresahkan belakangan ini, penulispun terdorong... more
Previous blog entries:
Nov 25-Gerbong Eksklusif PKS
Nov 16-Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro
Nov 9-80 Tahun Sumpah Pemuda
Partai Keadilan Sejahtera's favorite blog entries:
Aug 23-Peranan Pemuda dalam Islam (4): Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Menjadi Potret Islam
Aug 23-Peranan Pemuda dalam Islam (3): Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah
Aug 23-Peranan Pemuda dalam Islam (2): Pemuda Sebagai Generasi Yang Memahami Kondisi Realitas Ummat
Aug 23-Peranan Pemuda dalam Islam (1): Pemuda Sebagai Generasi Harapan Islam
   View All
.
MusicMusicFeb 21, 2008
Materi Ust. Anis Matta (Sekjen DPP PK Sejahtera)
Previous playlists:
Sep 10-Ar-Rahman
   View All
....
.
..
VideoVideoFeb 22, 2008
ThumbnailBagi anda yang belum pernah melihat video klipnya,silahkan ditonton!
Previous videos:
Feb 21-mylove.wmv
   View All
.
NoteBuku Tamu
   
latifabdul wrote on Nov 27, '11
Assalamu'alaikum wrwb

Apa kabar baik2 saja bukan?
Saya kirimkan anda sebuah artikel yg terbaru.
semoga ada manfaatnya dalam memahami Islam yang Murni dari budaya2 Arab.

STANDART HIDUP SEJAHTERA MENURUT ISLAM.

http://latifabdul.multiply.com/journal/item/902/Standar_Hidup_Sejahtera_Menurut_ALLAH_dan_Rasulullah_saw.

http://latifabdul.multiply.com/journal/item/908/40_Perbedaan2_Islam_progressive_--VS--Fundamentalis.

Salam
suhdi64 wrote on Sep 28, '11
Aslkm
Ana baca berita di eramuslim,pks makassar bolehkan jual miras,Ana khusnuzone tidak seperti itu,mungkin beritanya di plintir mohon penjelasan

Wassalam
Simpatisan
mohlison wrote on Nov 18, '10
Metode Granada 4 langkah , dalam waktu 8 jam insya Allah bisa.!
http://kamus-alquran.com
021-60621771 / 08129194349
mohlison wrote on Nov 18, '10
Assalamualaikum Wr. Wb.

Kabar gembira untuk Ikhwan dan Akhwat serta para Penuntut Ilmu .

Telah ditemukan Metode baru untuk menerjemah Alquran, hanya dalam waktu 8 jam insya Allah bisa ..!

Metode Granada sistim 4 langkah yang ditemukan oleh Ust.Solihin Bunyamin ,Lc .
Mudah dipelajari praktis dan sistematis .

Mari kita tingkatkan kemampuan dan penguasaan bahasa Alquran khususnya , Bahasa arab Umumnya .Kunjungi kami di ,

http:// www.kamus-alquran.com

Mohlison ( 021-60621771 / 08129194349 )
onestopquran wrote on Mar 15, '10
Assalamu'alaikum

Info penting ....
Ini adalah pegangan wajib buat kader PKS dan para pecinta Al Qur'an. Silakan klik di http://spesialisquran.wordpress.com/one-stop-quran
pangerans wrote on Feb 10, '10
salam semangat dari DPC PKS Pesanggrahan. Blog kami di: http://pkspesanggrahan.blogspot.com
ilhamfansclub wrote on May 25, '09
jkwiranto | 17 May 2009
Mengapa JK-Wiranto

Inilah sejumlah fakta dan penyebab mengapa pasangan Jusuf Kalla-Wiranto paling tepat untuk memimpin Indonesia.

* Pasangan Nusantara. JK-Wiranto adalah satu-satunya pasangan yang memperhatikan keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia. Hanya pasangan Capres-Cawapres JK-Wiranto yang memiliki unsur pribadi dari luar pulau Jawa, bahkan dicalonkan sebagai Presiden RI.
* Nasionalis. JK-Wiranto keduanya tak ingin bangsa Indonesia yang besar jatuh ke tangan kekuasaan asing, termasuk dalam soal ekonomi.
* Pro-Pasar. Namun pasar di sini tidak semata pasar saham belaka sebagaimana didengung-dengungkan oleh para elite neo-liberal. Akan tetapi lebih ke pasar rakyat yang menggerakkan roda ekonomi riil.
* Berpengalaman di pemerintahan. Baik Jusuf Kalla maupun Wiranto merupakan tokoh yang matang di pemerintahan. Jusuf Kalla pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) sebelum menjadi Wakil Presiden RI. Sementara Wiranto pernah menjabat sebagai Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) serta Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
* Agamis. H. Muhammad Jusuf Kalla maupun H. Wiranto merupakan sosok yang taat pada agamanya, namun juga penuh toleransi dengan agama lain.
* Peduli Rakyat Kecil. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diluncurkan pemerintah merupakan inisiatif Jusuf Kalla (JK). Program ini jelas membantu jutaan rakyat kecil yang selama ini tak memiliki akses bantuan.
* Cinta Damai. JK semenjak masih menjadi Menko Kesra sudah menggagas dan mengupayakan upaya perdamaian di daerah-daerah konflik. Ia pergi ke Aceh, berhasil mewujudkan Perdamaian Malino, juga ke Poso dan Ambon. Wiranto pada saat menjabat sebagai Panglima ABRI pada 1999 juga memerintahkan penarikan pasukan organik dari Aceh setelah selama Orde Baru dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM). Semua itu membuktikan keduanya mencintai perdamaian bagi bangsa besar ini.
* Lebih Cepat. Dalam jabatannya di pemerintahan, JK maupun Wiranto lebih cepat dari pejabat lain saat harus bertindak. Bahkan kerapkali hambatan birokrasi yang panjang ditembusnya demi agar sebuah kebijakan yang pro-rakyat dapat diterapkan.
* Lebih Baik. Pengalaman JK-Wiranto di pemerintahan menjadikan keduanya sebagai pasangan capres-cawapres yang yang lebih baik dari berbagai segi. Baik dari segi pengalaman, kompetensi, kejujuran, maupun keberpihakannya pada bangsa.
* Lebih Tegas. Karakter JK dan Wiranto bukanlah seorang peragu. Keduanya tegas dan berani mengambil resiko tidak populer atas kebijakannya demi kebaikan rakyat.
dpcpksnagreg wrote on Mar 27, '09
pengumuman hari ahad 29 maret 2009
kampanye terbuka PKS tingkat Provinsi
dimulai dari pukul 08.00, dengan tema
mari kita putihkan jawa barat
di lapangan gasibu Bandung
trima kasih
saudaraseperjuangan wrote on Mar 25, '09
Tausyah oleh Dr. Daud Rasyid
"Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin"
Rabu, 25/03/2009 09:48 WIB
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Rabu, 25/03/2009 09:48 WIB Cetak | Kirim | RSS “Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.”

Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.

Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.

Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.

Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah didapat.

Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.

Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.

Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.

Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.

Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran.

Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.

Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal politik.

Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli besi.

Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul ‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.

Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.

Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.

Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.

Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.

Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.

Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad).
http://eramuslim.com/
pksberau wrote on Mar 24, '09
Assalamualaikum akhi fillah
salam dari kader PKS Berau.
www.pksberau.com
jeelelmanshood wrote on Mar 22, '09
assalamu alaikum Smoga kalian senantiasa diberikan semangat membera menangkan dkwah
allahumma amieen!
salam kenal akhukm (anas).
mantap mentong PKS!
taufikhidayatmuslim wrote on Mar 5, '09
Ass. Subhanallah............. akhirnya terjawab sudah keraguan umat s'lama ini. ikhwa sekalian silahkan kunjungi blog di bawah ini. Ane akan membuka FKP (Forum Kader Peduli makassar Mohon do'anya ya..... Allahu Akbar...............

http://pkswatch.blogspot.com/
taufikhidayatmuslim wrote on Mar 5, '09
Ass. Subhanallah............. akhirnya terjawab sudah keraguan umat s'lama ini. ikhwa sekalian silahkan kunjungi blog di bawah ini. Ane akan membuka FKP (Forum Kader Peduli) cab balikpapan.Mohon do'anya ya..... Allahu Akbar...............

http://pkswatch.blogspot.com/
taufikhidayatmuslim wrote on Mar 5, '09
Ass. Subhanallah............. akhirnya terjawab sudah keraguan umat s'lama ini. ikhwa sekalian silahkan kunjungi blog di bawah ini. bravo FKP (Forum Kader Peduli) cab Makassar .Mohon do'anya ya..... Allahu Akbar...............

http://pkswatch.blogspot.com/
hanifabdillah wrote on Jan 13, '09
Titik mula perjalanan ini adalah saat-saat penciptaan manusia pertama, bapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam as yang diciptakan Alloh swt dari tanah dengan tangan-Nya sendiri. Kemudian ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Para malaikat pun bersujud kepada Adam as sebagai bukti ketaatan mereka kepada Alloh swt dan penghormatan mereka kepada Adam as. Di waktu yang sama terjadilah suatu kedurhakaan yang besar sekali berupa pembangkangan Iblis terhadap Alloh swt dengan menolak untuk bersujud kepada Adam as seraya takabur atas dasar klaim bahwa bahan asal penciptaan dirinya, yaitu api lebih mulia dari bahan asal penciptaan Adam as, yaitu tanah. Murkalah Alloh swt dan terkutuklah Iblis.
Mari Bergabung di Sebuah Gerakan Kebangkitan
HASMI Sebuah Gerakan Kebangkitan
HASMI, Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami, adalah sebuah gerakan Islam yang bercita-cita dan bertujuan: mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia, yaitu masyarakat yang dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam.
HASMI adalah organisasi Islam yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas negara seperti halnya Hizbut Tahrir, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan lain-lainnya.
http://hanifabdillah.multiply.com/journal
http://hasmi.org/
novianhariyanto wrote on Dec 31, '08
assalamu'alaikum ikhwah PKS makassar!!
ane copy gambar 'dimana bumi'. untuk bahan diskusi Ikhwah di Bali.
Sukron ya...wassalam.
ekakurnia wrote on Dec 23, '08
padangkusumo wrote on Dec 22, '08
Assalamu 'alaikum
Ayo bersama kita jemput takdir kemenangan,YES!
ALLohu AKbar.


daengngirate wrote on Dec 21, '08
Dari berbagai manuver politik yang sudah dilakukan oleh PKS pada tingkat nasional, saya membaca bahwa PKS sedang menyampaikan pesan tentang misi PKS menjelang Pemilu 2009 kepada kita, bukan pada konteks Soeharto-nya, tapi pada narasi besarnya.
Pertama, misi PKS untuk mengakhiri politik aliran di Indonesia. Sejarah perpolitikan Indonesia sebelum dan sesudah Indonesia merdeka telah diwarnai oleh politik aliran, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Prof Clifford Geertz asal Belanda sejak tahun 60-an.
Menurut pandangan ini preferensi pemilih sangat ditentukan oleh dinamika religiusitas masyarakat dan muatan ideologis yang dibawa oleh partai politik. Jika merujuk pada teori ini dengan mendikotomi partai politik menjadi partai sekuler dan partai islam, maka kita menemukan fakta bahwa pemilih partai Islam pada setiap momentum pemilu terus mengalami penurunan.
Prestatasi tertinggi partai-partai Islam terjadi pada tahun 1955 dengan perolehan 40 persen lebih pemilih, kemudian terus menurun hingga Pemilu 2004.
Langkah Maju
Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai, jika kita membandingkan Pemilu 1955 dengan Pemilu 1999 terlihat bahwa pemilih partai sekuler meningkat sebanyak 35,6 persen, sedangkan pemilih partai Islam menurun 7,51 persen. Sementara anggota legislatif (DPR) partai-partai sekuler bertambah sebanyak 32,64 persen, sementara anggota legislatif partai-partai Islam menurun sebanyak 9,95 persen.
Artinya, trend elektabilitas partai-partai Islam yang ada saat ini jika masih menampilkan performance yang sama dengan Pemilu 1999 dan 2004 tidak akan melahirkan pertambahan pemilih yang signifikan, bahkan cenderung terus menurun. Bagi PKS, fenomena ini adalah sebuah ancaman bagi semua partai Islam.
Oleh karena itu partai-partai Islam sudah saatnya berpikir bagaimana melepaskan diri dari jebakan politik aliran tersebut. Jika tidak, Pemilu 2009 hanya akan menjadi ajang perebutan suara sesama partai Islam.
Ceruk pemilih yang terlalu sedikit untuk merepresentasikan kepentingan ummat dalam pengeloaan negara. Sementara segmen pemilih diluar pemilih ideologis partai Islam sangat besar.
Saya menilai, manuver politik yang telah dilakukan oleh PKS dengan menampakkan diri sebagai partai tengah, partai untuk siapa saja, adalah langkah maju yang luar biasa. Setidaknya PKS tidak lagi menjadikan ideologi Islam sebagai jualan satu-satunya untuk meraih simpati pemilih yang memang mayoritas lebih menilai performance partai ketimbang Ideologi.
Kedua, misi PKS untuk mengakhiri politik tokoh. Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan politik di Indonesia masih mengandalkan figur dan ketokohan sebagai jualan politik. Akibatnya kebesaran partai sangat bergantung pada kebesaran tokohnya, bukan pada ide, manajemen, maupun performancenya.
Sebagai bukti nyata masih hidupnya politik tokoh adalah gonjang-ganjing beberapa partai Islam yang merasa tokohnya dibajak oleh PKS melalui iklan Guru Bangsanya. Dalam iklan ini PKS memposisikan tokoh-tokoh pahlawan tersebut sebagai milik bangsa Indonesia, dan bukan milik ormas atau partai tertentu.
Pada saat yang sama politik Indonesia lebih mengarah kepada pertarungan antara tokoh-tokoh bangsa yang potensial. Sesama tokoh saling menjatuhkan. Sesama tokoh saling mengklaim sebagai yang terbaik.
Bahkan fanatisme yang berlebihan terhadap tokoh-tokoh tersebut membutakan mata mereka terhadap kehadiran ide-ide cerdas dan solutif dari tokoh-tokoh yang lain. Sebuah warisan politik yang selama ini menjadi jangkar bagi kemajuan Indonesia.
Oleh karena itu menurut saya maneuver PKS dengan memberikan award kepada 100 pemimpin muda Indonesia dan delapan inspiring woman tanpa memandang suku, agama, jenis kelamin, ideologi dan partai politiknya merupakan sebuah langkah maju yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memilki jiwa besar dan visi Indonesia yang jauh ke depan.
Manuver ini telah menempatkan semua tokoh bangsa ini dari kalangan manapun sebagai sosok-sosok yang harus diapreasisasi. Sekali lagi tanpa harus memandang perbedaan ideologi.
Dalam ungkapan yang indah Sekjen PKS, Anis Matta mengatakan, di PKS banyak orang hebat, tapi di partai lain juga banyak orang hebat. Di PKS banyak reformis, tapi di kelompok lain juga banyak reformis.
Oleh karena itu kita mesti keluar dari kandang kita masing-masing, untuk bertemu pada suatu lapangan yang luas. Meneriakkan satu kata yang sama tentang masa depan Indonesia. Dan biarlah di lapangan besar itu, kita menggunakan baju kita masing-masing, dengan warna yang berbeda-beda, tapi dengan satu semangat yang sama. Karena hanya satu kata, Indonesia!".
Ketiga, misi PKS untuk mengakhiri politik simbol. Manuver terakhir yang dilakukan oleh PKS adalah memunculkan warna kuning sebagai warna dominan pada berbagai atributnya.
Manuver ini menuai kontroversi dari berbagai pihak dan dianggap sebagai upaya PKS untuk mendekat dengan partai Orde Baru, Golkar. Dalam kaca mata saya, maneuver ini adalah maneuver politik yang sangat cerdas untuk mulai menghilangkan politik simbol yang selama ini, sadar atau tidak, ikut mempengaruhi pilihan politik masyarakat.
Sebagian pemilih bahkan menentukan pilihannya beradasrkan simbol warna, kuning untuk Golkar, merah untuk PDIP, hijau untuk PPP dan PKB, biru untuk PAN, dan putih untuk PKS. Tidak masuk akal memang, tapi simbol-simbol itulah yang tertanam di alam bawah sadar sebagian pemilih.
Oleh karena itu, menurut saya maneuver itu belum selelsai, setelah muncul dengan warna kuning, beberapa waktu yang akan datang PKS akan muncul dengan warna merah, hijau, biru juga putih, untuk meruntuhkan mitos politik simbol tersebut.
Seolah-olah PKS ingin mengatakan, "Kuning itu PKS juga, merah itu PKS juga, hijau itu PKS juga, biru itu PKS juga dan putih itu PKS juga".
Keempat, misi PKS untuk menuju The Next Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, secara jujur saya harus mengakui bahwa bangsa ini belum memiliki visi. Sesuatu yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Amerika besar karena visi. Jepang maju karena visi. India bangkit karena visi. Cina menjadi raksasa karena visi. Tapi, bangsa ini tak pernah memilki visi. Kita terus tenggelam dalam diskursus dan wacana kita tentang sejarah Indonesia. Waktu kita dihabiskan untuk mencari siapa yang salah pada setiap fase transisi negeri ini.
Pemimpin-pemimpin kita terpilih untuk dihujat. Dan kitalah bangsa yang malas untuk memberikan apresiasi. Untuk hanya sekadar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo, bangsa ini begitu pelit hingga menunggu waktu puluhan tahun untuk memberikannya.
Sesungguhnya PKS telah memberikan keteladanan tentang perlunya bangsa ini memiliki visi. Dan syarat untuk melangkah menuju visi The Next Indonesia itu adalah kearifan memaknai sejarah. Apresiasi PKS terhadap Soeharto bukanlah karena uang, seperti yang tersirat di akhir tulisan Aswar Hasan. Tetapi sebuah ide tentang menyambungkan sejarah antargenerasi, sebab peradaban besar adalah karya akumulatif antargenarasi.
Bangsa kita ini tidak akan pernah berdiri hanya dengan darah satu orang, hanya dengan air mata satu orang, hanya dengan ide satu orang. Tetapi sebuah karya antar generasi anak bangsa.
Dan terakhir, menurut saya tulisan Azwar Hasan tersebut adalah apresiasi cinta beliau terhadap PKS. Beliau telah berusaha melakukan tabayyun (sebagai sesama muslim) kepada elit PKS, meskipun belum mendapatkan respon apa-apa.
Kader PKS tidak perlu merasa terhakimi oleh judul opini Azwar Hasan ini yang dalam pandangan saya merupakan sosok bijaksana dan sangat memahami impilikasi yang muncul dari pilihan judul opini ini. Saya yakin, bahwa orang-orang besar hanya lahir dari gelombang kritikan yang juga besar.
idealistina wrote on Dec 18, '08
Jayalah PKS Jaya...
dari PKS untuk Bangsa...
Tapi
Ko... Kemarin PKS menganugerahi 100 tokoh termasuk tokoh Liberal, Sekular dan pendukung AKKBB
Ko...Iklan PKS menampilkan Soeharto (walau menampik memberi gelar pahlawan)
Ko.. waktu Silatnas di Jakarta bukan Nasyid lagi yang mengiringi PKS tapi music POP dan Rock (kebetulan aku hadir)
Ko....Sekarang lambangnya jadi kekuning-kuningan...
Ana....jadi ragu ma PKS... jangan2 jadi PK Salah bukan PK Sejahtera
...